Pemkot Pangkalpinang dan BPOM Pangkalpinang Cek Makanan Berbuka Puasa di Kota Pangkalpinang

Pemerintah Kota Pangkalpinang bekerja sama dengan Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kota Pangkalpinang melakukan pengawasan dengan menguji beberapa sample makanan berbuka puasa atau takjil yang dijual di Kota Pangkalpinang. Kegiatan dilaksanakan pada hari Jum’at (10/5/2019) ini, diikuti juga oleh Wali Kota Pangkalpinang H. Maulan Aklil (Molen), Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan Kota Pangkalpinang, dan Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang.

Kepala BPOM Pangkalpinang Hermanto menyatakan kegiatan pengawasan makanan berbuka puasa/takjil ini dalam rangka Bulan Ramadhan dan menjelang Lebaran. Kegiatan ini sudah dilakukan sejak hari Kamis (9/5), di seluruh kecamatan di Kota Pangkalpinang.

Dijelaskannya, pemeriksaan sampel makanan menggunakan tes uji cepat (rapidly test) di mobil laboratorium keliling BPOM. Tes ini digunakan untuk menemukan bahan-bahan berbahaya terkandung di dalam makanan.

“Parameter uji yang berbahaya itu seperti mengandung boraks, formalin, Rhodamin B, dan metanil yellow. Bahan-bahan ini berbahaya karena efeknya nanti memang nggak langsung. Nggak langsung sakit begitu mengonsumsinya karena efeknya dalam jangka panjang sekitar 5-10 tahun akan terjadi kasus-kasus penyakit seperti kanker, kanker seperti yang di media itu sampai cuci darah, ada kanker payudara, dan lain-lain,”jelas Hermanto.

Hermanto menyampaikan dari 82 sampel makanan yang diuji dari seluruh kecamatan di Kota Pangkalpinang, 81 sampel memenuhi syarat, artinya aman untuk dikonsumsi oleh masayarakat. Sedangkan satu sampel ditemukan mengandung bahan berbahaya Rhodamin B, yaitu pada kue apem.

“Terkait hal ini, kita sampaikan bahwa Balai POM sudah mengambil tindakan-tindakan karena sampel ini ternyata dititip oleh produsennya ke penjual. Jadi dari penjual kita sudah beri peringatan, pembinaan untuk tidak  mengulangi lagi dan kami aka menelusuri dimana prosuden ini, penitip tadi, untuk dapat dilakukan bimbingan edukasi. Kita akan beritahukan barang ini tidak boleh digunakan ke makanan,”katanya.

Hermanto menjelaskan Rhodamin B itu biasa digunakan untuk pewarna tekstil dan pewarna kertas. Karena itu, tidak diperbolehkan digunakan dalam makanan karena sangat membahayakan bagi kesehatan.

Hermanto menghimbau kepada para pelaku usaha, selain untuk tidak menggunakan bahan berbahaya, juga untuk mengolah dan menyajikan dengan cara-cara yang hiegenis. Artinya, kebersihannya juga harus dijaga, misalnya alat-alat yang digunakan dan cara pengolahannya.

Sementara itu, Wali Kota Pangkalpinang menyatakan, kegiatan ini adalah upaya untuk menciptakan rasa aman dan nyaman, baik bagi penjual maupun pembeli. Dengan tes ini, dia mengharapkan akan membuktikan bahwa para penjual makanan di Pangkalpinang menjual makanan yang terjamin kualitasnya dan tidak mengandung zat-zat berbahaya. Selain itu, konsumen juga akan merasa aman dan nyaman dalam membeli makanan-makanan untuk berbuka puasa.

“Saya kira ini adalah hal yang positif. Kita ambil yang positifnya sajalah. Kalau yang bahaya itu, kalau kanker, kantong kering dak bisa belanja, dak bisa jualan. Nah, itu yang bahaya,”ujarnya pria kelahiran Pangkalpinang ini.

Wali Kota mengungkapkan, Pemerintah Kota Pangkalpinang selama ini selalu bekerja sama dengan BPOM terkait pengawasan makanan yang ada di Kota Pangkalpinang ini.

“Kalau di Pangkalpinang ini saya kira amanlah, tidak jadi masalah. Itupun yang satu tadi cuma, ada yang nitip, Pak ya, bukan dari penjual langsung. Makanya saya jamin mudah-mudahan hari ini dengan kita temukan semuanya negative. Yang penting kita ada duitnya, kalau dak ada duitnya susah nanti belanja. Yang penting barang kita aman, nyaman, penjual juga terjamin,”pungkasnya._(humas-pkp)

#TimhumasprotokolPangkalpinang

You may also like...